Kemenkes Catat 2.365 Warga Masih Mengalami Pemasungan per Triwulan III 2026

12 Oct 2026

IVOOX.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat pada triwulan ketiga 2026 sebanyak 2.365 warga masih mengalami pemasungan akibat gangguan jiwa berat, termasuk psikosis akut dan skizofrenia, dan hal tersebut menjadi tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan perlunya penguatan perhatian terhadap kesehatan jiwa.

Depresi banyak ditemukan pada kelompok usia muda, sementara stigma sosial masih menghambat penanganan dan berkontribusi terhadap praktik yang memprihatinkan, seperti pemasungan.

"Melalui penguatan layanan kesehatan primer dan edukasi publik, pemerintah berupaya memastikan setiap individu memperoleh dukungan yang tepat dan dapat berdaya dengan keunikannya masing-masing," kata Imrah di Jakarta, Senin (12/10/2026), dikutip dari Antara.

Selain itu, lanjutnya, terdapat dua hambatan utama dalam penanganan individu neurodivergent, yakni keterlambatan penemuan kasus dan penolakan atau denial dari orang tua.

“Orang tuanya tidak mengakui kalau anaknya itu seorang neurodivergent, sehingga mencari doctor shopping untuk memastikan atau meminta second opinion bahwa anaknya tidak neurodivergent. Akibatnya, terlambat diketahui dan ketika orang tuanya sadar, potensi terbesar anaknya sudah tidak bisa ditemukan lagi,” katanya.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menegaskan kesehatan jiwa merupakan salah satu isu utama dalam pembangunan nasional.

Mengutip data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), gangguan jiwa merupakan penyebab kedua terbesar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.

Sementara itu data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.

“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang, dikutip dari Antara.

Selain depresi, katanya, perhatian juga perlu diberikan kepada individu neurodivergent, termasuk individu dengan ADHD dan disleksia. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi fokus dan kontrol diri, sedangkan disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis.

Senada, Ketua Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (UI)/RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Hervita Diatri, menekankan pentingnya pelibatan People With Lived Experience (PWLE), yaitu individu yang memiliki pengalaman langsung dengan gangguan jiwa, dalam upaya penanganan kesehatan jiwa.

“Pengobatan kami bukan hanya obat, tetapi juga butuh psikoterapi. Ada kesan seolah psikoterapi dan rehabilitasi hanya bisa didapatkan oleh mereka yang mampu membayar atau tinggal di kota besar, padahal tidak demikian," ujar Hervita.

Hal tersebut, katanya, harus didekatkan melalui deinstitusionalisasi sebagai jawaban tepat agar tata laksana yang adekuat meliputi obat, psikoterapi, dan rehabilitasi dapat diberikan.

Komentar

Berhasil Login.....

Gagal Login

Back to Top

Komentar berhasil di tambah

Komentar berhasil di Edit

Komentar berhasil di Dihapus

Anda Harus Login

Tidak Boleh Kosong